----------------------------------
Oleh : Toto Isanto
Kode Etik di Dinding, Tanggung Jawab di Hati: Makna Ucapan Maaf Pejabat Publik di Ruang Dewan. "Dinding Dewan Menyimpan Kata, Pers Menyimpan Ingatan".
Di balik dinding-dinding formal kantor dewan, tempat keputusan publik dirumuskan dan aspirasi rakyat diperdebatkan, terpampang sebuah pesan yang tidak biasa, "ucapan permintaan maaf dari seorang pejabat publik".
Bukan sekadar ornamen, bukan pula basa-basi politik, melainkan simbol tanggung jawab etik yang jarang diungkap secara terbuka.
Ucapan maaf itu datang dari Hj. Darnawati, anggota DPRD Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dari Partai Perindo. Sebuah pernyataan yang kini menghiasi ruang kantor dewan, berdampingan dengan teks kode etik lembaga legislatif. Ia tidak hanya tertulis, tetapi berbicara tentang relasi kuasa, kesalahan, dan keberanian untuk mengakui kekhilafan.
Kode etik bagi pejabat publik sejatinya bukan sekadar aturan administratif yang terpaku di dinding. Ia adalah kompas moral yang seharusnya hidup dalam setiap kata, kebijakan, dan sikap seorang wakil rakyat. Dalam konteks lembaga legislatif, kode etik mengatur batas antara kewenangan dan kesewenang-wenangan, antara kritik dan penghormatan, antara kekuasaan dan tanggung jawab.
Namun dalam praktiknya, kode etik kerap kehilangan makna. Ia dibaca saat pelantikan, lalu dilupakan saat kepentingan pribadi atau emosi mengambil alih. Karena itu, kehadiran ucapan maaf secara terbuka di ruang dewan menjadi isyarat penting, "bahwa kode etik tidak selalu berjalan mulus, dan ketika ia dilanggar, pertanggungjawaban adalah keharusan".
Permintaan maaf Hj. Darnawati bukan sekadar pengakuan personal, melainkan bagian dari etika komunikasi publik. Dalam demokrasi yang sehat, pejabat publik tidak kebal dari kritik dan tidak pula kebal dari kesalahan, yang membedakan adalah cara mereka meresponsnya.
Dengan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan bahkan membiarkannya terpajang di kantor dewan, terdapat pesan simbolik yang kuat, "bahwa jabatan tidak menghapus kewajiban moral, dan kekuasaan tidak membatalkan keharusan untuk rendah hati".
Ucapan maaf ini juga menjadi pengingat bahwa hubungan antara pejabat publik dan masyarakat, termasuk insan pers, dibangun di atas rasa saling menghormati. Ketika terjadi gesekan, klarifikasi dan permintaan maaf adalah jembatan pemulih kepercayaan.
Kantor dewan bukan hanya ruang kerja, melainkan ruang pembelajaran demokrasi. Apa yang terpajang di dalamnya mencerminkan nilai apa yang ingin diwariskan. Ketika kode etik dan ucapan maaf ditempatkan berdampingan, publik dapat membaca satu pesan jelas, "kesalahan adalah bagian dari proses, tetapi menolak bertanggung jawab adalah pelanggaran etika yang sesungguhnya".
Bagi anggota dewan lainnya, hal ini menjadi cermin. Bahwa integritas tidak selalu berarti tanpa cela, melainkan berani mengakui saat melenceng. Dan bagi masyarakat, ini menjadi pelajaran bahwa pejabat publik pun manusia, namun manusia yang terikat oleh sumpah dan amanah.
Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa ucapan maaf ini tidak berhenti sebagai simbol visual semata. Ia harus menjelma menjadi perubahan sikap, kehati-hatian dalam bertutur, serta penghormatan terhadap fungsi kontrol publik, termasuk peran pers sebagai pilar demokrasi.
Kode etik yang hidup adalah kode etik yang dipraktikkan. Ucapan maaf yang bermakna adalah yang diikuti dengan perbaikan. Dan ruang dewan yang bermartabat adalah ruang yang berani mengakui kesalahan, bukan menutupinya.
Pada akhirnya, dinding bisa memajang tulisan apa saja. Namun yang paling penting adalah apakah nilai-nilai itu benar-benar menghiasi hati para wakil rakyat dan tercermin dalam setiap keputusan yang mereka ambil atas nama rakyat Indragiri Hilir.
Bagi pers, ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal menjaga ruang bernama kebebasan agar tidak menyempit setiap kali kekuasaan merasa terusik.
Dan bagi pejabat publik, satu hal harus disadari sejak awal "kode etik tidak pernah ditujukan untuk melindungi jabatan, tetapi untuk melindungi demokrasi, termasuk mereka yang menuliskannya dengan jujur".(Red)
